HELLO ^_^

Senin, 10 Oktober 2011

Basis wewenang Formal: DuaPandangan

             Ada dua pandangan utama tentang asal wewenang  formal dalam organisasi: Pandangan klasik (top-down theory) dan pandangan penerimaan (consent theory of authority). Pandangan klasik berpendapat bahwa wewenang berasal dari  tingkatan masyarakat  yang sangat tinggi dan kemudian secara hukum diturunkan dari tingkat ketingkat. Pandangan ini menelusuri sumber tertinggi wewenang, dimana pada puncak tingkatan tertinggi mungkin birokrasi (dalam wujuds eorang raja, dictator atau president erpilih),atau kelompok orang sebagai wakil,, atau dalam oragnisasi perusahaan adalah pemilik atau para pemegang saham.
            Dalam pandangan klasik, wewenang formal organisasi perusahaan bersumber pada manajemen puncak dan mengalir kebawah melalui  proses delegasi. Ini berarti manajemen mempunyai hak untuk memberikan perintah dan para bawahan mempunyai kewajiban untuk mentaatinya. Jadi, pandangan klasik adalah normative dan secara parsial deskriptif.

            Pandangan kedua mengenai asal wewenang formal, pandangan penerimaan, menyatakan bahwa basis wewenang ada dalam diri P (influence) bukan pada O (influencer). Pandangan ini muncul sebagai hasil observasi bahwa tidak semua aturan  atau perintah sah ditaati dalam semua keadaan. Sebagai diterima oleh bawahan atau penerima order, dan sebagian tidak. Titik kuncinya terletak pada penerima (receiver) yang memutuskan untuk menerima atau menolak. Oleh karena itu, dalam pandangan penerimaan ada atau tidaknya wewenang pada setiap oerder ditentukan oleh penerima, bukan oleh orang yang memberikan order.
            Pandangan penerimaan tentu saja tidak menyatakan bahwa pembangkangan terhadap perintah dan kekacaubalauan adalah norma dalm organisasi; dalam kenyataannya, hampir semua wewenang formal diterima oleh para anggota organisasi

Wewenang dan Legitimasi

Max Weber melakukanan alisis klasik terhadap wewenang. Dia memandang bahwa wewenang  yang dilegalisasi (sah) merupakan syarat utama untuk memperoleh pengakuan dan motivasi  orang-orang dalam organisasi. Tingkat kepercayaan orang terhadap wewenang tersebut menentukan jumlah insentif positif atau besarnya unsur paksaan yang harus digunakan seorang atasan untuk menjamin ketaatan pada tujuan-tujuannya. Berkaitan dengan masalah ini, ada satu pertanyaan menarik, yaitu kondisi-kondisi seperti apa yang diperlukan untuk menghasilkan persepsi wewenang sah. Menurut  Weber ada tiga landasan bagi legalisasi wewenang:tradisi, karisma, dan rasional (atau legal).

Wewenang dan Pengaruh

WEWENANG dan PENGARUH
Suatu pernyataan dasar dalam teori organisasi adalah apa yang menyebabkan orang-orang menuruti perintah-perintah orang lain dalam system hirarkis? Apakah mereka takut akan konsekuensi-konsekuensi bila mereka tidak menaatinya? Atau apakah mereka menerima legitimasi aturan organisasi? Jawabannya jelas berkaitan dengan dua pertanyaan terakhir. Baik penerimaan maupun unsur takut mendasari ketaatan dalam setiap struktur organisasi formal. Wewenang merupakan suatu cara yang lebih rasional untuk mencapai pengarahan dan motivasi orang-orang dalam organisasi.